Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Keunikan Pakaian Baju Adat Tradisional Baduy Provinsi Banten

Keunikan-Pakaian-Baju-Adat-Tradisional-Baduy-Provinsi-Banten

Keunikan Pakaian Baju Adat Tradisional Baduy Provinsi Banten

Pakaian Baju Adat Baduy Banten - Banten Adalah sebuah provinsi di Indonesia bagian daripada wilayah Tatar Pasundan, yang terletak dibagian barat di Pulau Jawa, Indonesia. Provinsi ini pernah menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat,Sebagian besar anggota masyarakat memeluk agama Islam dengan semangat religius yang tinggi, tetapi pemeluk agama lain dapat hidup berdampingan dengan damai. Potensi, dan kekhasan budaya masyarakat Banten, antara lain seni bela diri Pencak silat, Debus, Rudad, Umbruk, Tari Saman, Tari Topeng, Tari Cokek, Dog-dog, Palingtung, dan Lojor. Di samping itu juga terdapat peninggalan warisan leluhur antara lain Masjid Agung Banten Lama, Makam Keramat Panjang, dan masih banyak peninggalan lainnya. Di Provinsi Banten terdapat Suku Baduy. Suku Baduy Dalam merupakan suku asli Sunda Banten yang masih menjaga tradisi antimodernisasi, baik cara berpakaian, rumah adat baduy maupun budaya adat istiadat suku baduy

Suku Baduy sering dianggap sebagai suku asli masyarakat Banten. Suku ini memegang erat hukum adat dan menutup diri dari masyarakat luar dan kemajuan teknologi yang saat ini semakin pesat. Suku Baduy sendiri dibagi menjadi 2, yaitu ;

1.Suku Baduy Dalam yang sama sekali tidak mau berinteraksi dengan masyarakat luar,
2.Suku Baduy Luar yang masih mau berinteraksi tapi dengan batas-batas tertentu. Keduanya memiliki perbedaan dalam corak pakaiannya.
3 Jenis Pakaian Adat Banten : Pakaian Adat Pangantin, Baju Pangsi, dan Pakaian Adat Baduy

Berdasarkan kegunaan dan bentuknya terdapat 3 jenis pakaian adat Banten .
Pakaian adat pangantin, baju pangsi, dan pakaian adat Baduy.

1. Pakaian Pengantin
a. Pengantin Pria

Pakaian Pengantin Pria Banten

Mengenakan penutup kepala, baju koko dengan kerah sebagai atasan.
Kain samping atau batik khas Banten sebagai bawahan, sabuk dari kain batik dengan motif sama.
Sebilah parang, golok, atau keris
Selop sebagai alas kakinya.

Pakaian Pengantin Wanita
Pakaian Pengantin Wanita Banten

Mengenakan hiasan di kepala berupa kembang goyang berwarna keemasan
Rangkaian bunga melati diselipkan di sanggulnya
Baju kebaya sebagai atasan, selendang diselempangkan ke bahu
Kain samping atau batik sebagai bawahan.

2. Baju Pangsi
Baju Pangsi

Baju pangsi adalah baju yang dikenakan sehari-hari oleh masyarakat Banten.
Baju ini dipadukan dengan celana komprang.
Selain sebagai pakaian sehari-hari baju pangsi juga dipakai dalam latihan silat tradisional atau debus yang kerap digelar oleh masyarakat adat Banten.

Pangsi merupakan singkatan dari Pangeusi “Numpang ka Sisi" yakni pakaian penutup badan yang cara pemakaiannya dibelitkan dengan cara menumpang seperti memakai sarung.
Pangsi terdiri dari tiga susunan yakni Nangtung, Tangtung, Samping.

 Filosofi Baju Pangsi
Berdasarkan fungsinya, pangsi terdiri dari bagian atas (baju) disebut dengan "Salontreng"
Bagian bawah (celana) disebut dengan "Pangsi".

Pangsi

Di bagian salontreng (1) dibuat tanpa kerah baju (2) dan terdiri dari lima atau enam kancing (6).
Dalam agama Islam, lima kancing menunjukkan rukun Islam sedangkan enam kancing menunjukkan rukun iman.

Filosofi Baju Pangsi

Jahitan yang menghubungkan badan dan tangan disebut dengan istilah beungkeut (4) yang mengandung arti "Ulah suka-siku ka batur, kudu sabeungkeutan, sauyunan, silih asah, silih asih, silih asuh, kadituna silih wangi, asal kata dari nama kerajaan Sunda Siliwangi".

Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan "Tidak boleh jahil dan licik kepada sesama, harus satu kesatuan dan kebersamaan dalam ikatan batin, saling memberi nasihat, saling mengasihi, dan saling menyayangi, selanjutnya saling mengharumkan nama baik".
Di ujung tangan (3), di ujung celana (11) terdapat jahitan beungket khusus dan di bagain baju terdapat dua saku (5).
Di bagian bawah (pangsi) dipasang karet dan tali yang berfungsi sebagai pengikat. Dulu tidak seperti ini (tanpa tali dan karet) karena pemakaiannya dilakukan dengan cara dibelitkan seperti sarung.

Di bagian samping (9) dipasang jahitan pengikat (8).
Samping (9) yang dulu berwarna hitam, kini dimodifikasi menjadi warna hitam karena disesuaikan dengan model dan mode pakaian modern.
Samping mengandung arti "Depe Depe Handap Asor", dalam bahasa Indonesia artinya "Selalu rendah hati dan tidak sombong".

Di bagian bawah (pangsi) terdapat Tangsung (10) yang mengandung makna "Tangtungan Ki Sunda Nyuwu Kana Suja", dalam bahasa Indonesia artinya "Mempunyai pendirian yang teguh dan kuat sesuai dengan aturan hidup".

Sedangkan Suja atau Nangtung (12) mengandung makna "Nangtung, Jejeg, Ajeg dina Galur.
Teu Unggut Kalinduan, Teu Gedag Kaanginan", dalam bahasa Indonesia artinya Teguh dan kuat pendirian dalam aturan dan keyakinan, semangat tinggi dan tidak mudah goyah".

3. Pakaian Adat Baduy
Dari sisi penerimaannya terhadap masyarakat luar, suku Baduy dibagi menjadi 2, yaitu suku Baduy Dalam dan suku Baduy Luar.
Suku Baduy Dalam sama sekali tidak mau berinteraksi dengan masyarakat luar. Suku Baduy Luar masih mau berinteraksi dengan masyarakat luar tapi dengan batas-batas tertentu.
Oleh karena itu pakaian adat kedua suku ini mempunyai perbedaan mencolok.


a. Pakaian Adat Baduy Dalam
· Pakaian Pria Baduy Dalam
Pakaian Pria Baduy Dalam
Pakaian adat pria suku Baduy Dalam disebut dengan nama Jamang Sangsang
Digunakan dengan cara disangsangkan atau digantungkan di badan.

Bahan yang digunakan dari pintalan kapas asli yang diperoleh dari hutan.
Dijahit menggunakan tangan , memiliki lubang di bagian lengan dan leher tanpa kerah, tidak dilengkapi dengan kancing atau saku.

Baju sangsang ini dipadukan dengan bawahannya berupa warna hitam atau biru tua yang dililit dipinggang. Dilengkapi ikat kepala dari kain putih yang berfungsi sebagai pembatas rambut

Baju ini berwarna putih, karena bagi suku Baduy Dalam warna putih memiliki makna bahwa mereka masih suci dan belum dipengaruhi budaya luar.

· Pakaian Wanita Baduy Dalam
Pakaian Wanita Baduy Dalam
Memakai busana seperti sarung dengan warna biru kehitam-hitaman mulai dari tumit sampai dada.
Model, potongan dan warnanya sama , kecuali bajunya.
Pakaian seperti ini biasanya dikenakan untuk pakaian sehari-hari di rumah.

Pakaian Sehari-hari Wanita Baduy

b. Pakaian Adat Baduy Luar
· Pakaian Pria Baduy Luar
Pakaian Pria Baduy Luar
Pakaian adat suku Baduy Luar mempunyai desain yang cenderung lebih dinamis.
Menggunakan jahitan mesin, mempunyai kancing dan kantong, bahannya pun tidak terpaku harus berupa kapas murni.

Warna pakaian suku Baduy Luar adalah warna hitam, oleh karena itulah baju ini diberi nama baju kampret (baju kelelawar).
Suku Baduy Luar memakai ikat kepala berwarna biru tua dengan corak batik.


· Pakaian Wanita Baduy Luar
Pakaian Wanita Baduy Luar

Untuk pakaian kaum wanita, suku Baduy Dalam maupun Baduy Luar tidak terlalu mempunyai perbedaan yang mencolok.

Corak Kain sarung atau kain wanita hampir sama coraknya, yaitu dasar hitam dengan garis-garis putih, sedangkan selendang berwana putih, biru, yang dipadukan dengan warna merah.

Kebaya Wanita Baduy

Untuk pakaian bepergian, biasanya wanita suku Baduy Luar memakai kebaya, kain tenunan sarung berwarna biru kehitam-hitaman, karembong, kain ikat pinggang dan selendang.

bedog atau golok baduy

Pria suku Baduy Luar dan suku Baduy Dalam selalu membawa bedog atau golok dalam kesehariannya.
Aksesoris tambahan pria Suku Baduy yaitu tas yang terbuat dari kulit kayu pohon terep.

Tas yang disebut koja atau jarog ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Suku Baduy.
Tas ini berfungsi sebagai tempat menyimpan perlengkapan yang dibutuhkan.

Tenun Baduy

Kain Tenun Baduy

Tenun Baduy memiliki kekhasan tersendiri baik dari segi bahan maupun ragam hias yang mendasari pembuatannya.
Bagi suku Baduy tenun selain berfungsi untuk memenuhi kebutuhan sandang, juga memiliki fungsi sebagai identitas, khususnya terhadap nilai-nilai adat yang juga melambangkan eksistensi mereka.

Keunggulan cita rasa dari pembuatan kain yang dimiliki orang Baduy berkembang dalam berbagai wujud, sifat, bentuk, kegunaan, ragam hias, serta menjadi jati diri dan ciri khas masyarakat adat tersebut.

Betapapun sederhananya bentuk, bahan, pola hias, dan teknik pembuatannya, tenun Baduy merupakan benda budaya yang bukan hanya didasari oleh fungsi saja tetapi juga merupakan perwujudan dari nilai-nilai tradisi, adat istiadat, sejarah, dan kekayaan alam yang merupakan cerminan dari budaya mereka.

Kreativitas mereka dalam membuat kain tenun terbentuk melalui suatu perjalanan panjang. Menenun mempunyai nilai estetika, kegiatan menenun juga memiliki makna ketaatan untuk para wanita Baduy.

Keragaman dan keunikan kain tenun Baduy merupakan cerminan dari filosofi hidup mereka.
Serta merupakan kreasi dari bentuk-bentuk simbolis yang tertuang dalam adat hingga keseharian mereka.

Suku Baduy percaya bahwa mereka harus tetap ada dalam kesahajaan dan kesederhanaan.
Karena menurut kepercayaan mereka, meninggalkan kesederhanaan berarti membatalkan tapa di dunia.

Kegiatan menenun dalam masyarakat adat Baduy juga merupakan salah satu perwujudan dari konsep amalan tapa yang dilakukan perempuan Baduy.

Karena membuat kain tenun merupakan pemenuhan kebutuhan sandang.

Orientasi masyarakat adat Baduy dalam tinggkatan status sosial juga terlihat pada kepatuhan meraka terhadap pakaian yang mereka kenakan.
Masyarakat adat Baduy dipisahkan oleh garis sosial yang membentuk status dan tampak memperlihatkan dua subkultur berbeda.

Masyarakat Baduy memisahkan status sosial berdasarkan wilayah pemukiman mereka ke dalam tiga bagian; Tangtu, Panamping, dan Dangka.Tangtu merujuk pada masyarakat adat Baduy Dalam, sedangkan Panamping dan Dangka merujuk pada masyarakat adat Baduy Luar.

Pada gilirannya, pelapisan sosial ini pun memengaruhi tata cara mereka berpakaian dan menenun. Warna putih digunakan pada bahan kain tenun dan pakaian yang dikenakan oleh Baduy Dalam. Sedangkan Baduy Luar diberi identitas yang berbeda, yaitu berpakaian hitam.

Alat Menenun Tenun Baduy
Alat Menenun Tenun Baduy

Keterangan Gambar

A. Caor/dodogong, sebilah papan yang diletakkan horizontal, sebagai sandaran punggung penenun. Selain itu berfungsi jug untuk menarik kain tenunan agar terbentang kencang.
B. Taropong, sepotong bambu (tamiang), tempat memasukkan benang kanteh (pakan).
C. Tali caor, tali yang mengikatkan bilah caor dengan kain yang ditenun di sebelah kiri dan kanan penenun.
D. Suri/Sisir, alat berbentuk sisir, untuk membereskan benang pakan dan benang lusi.
E. Hapit, bilahan papan untuk menggulung kain hasil tenun.
F. Barera, sebilah kayu alat bertenun untuk merapatkan benang pakan agar kain tenun menjadi rapat
G. Jingjingan, bagian dari gedogan, tempat menambatkan lusi.
H. Limbuhan, sebilah kayu yang memanjang seperti mistar berbentuk bulat untuk merenggangkan kedudukan benang tenun
I. Kekedal, patitihan, totojer, bilahan kayu tempat kaki penenun bertelekan
J. Rorogan, sebilah kayu alat penahan berera, terletak sebelah kanan penenun.
K. Totogan, bilahan papan/kayu sebagai alat penahan ketika proses bertenun.
L. Cangcangan, bilahan papan/kayu, sebagai penguat alat bertenun

Demikian Keunikan Pakaian Baju Adat Tradisional Baduy Provinsi Banten

Baca Juga Pakaian Adat Tradisonal Daerah Lainnya

Keunikan Nama Pakaian Baju Adat Tradisional Betawi Provinsi DKI Jakarta
Keunikan Nama Pakaian Baju Adat Tradisional Sunda Provinsi Jawa Barat
Keunikan Nama Pakaian Baju Adat Tradisional Provinsi Bali
Keunikan Nama Pakaian Baju Adat Tradisional Papua Barat Provinsi Papua 
Keunikan Nama Pakaian Baju Adat Tradisional Melayu Teluk Belanga dan Kebaya Labuh Riau
Keunikan Nama Pakaian Baju Adat Ulee Balang Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam
Keunikan Nama Pakaian Baju Adat Tradisional Ulos Batak Karo Provinsi Sumatera Utara
Keunikan Nama Pakaian Baju Adat Tradisional Minangkabau Provinsi Sumatera Barat
Keunikan Nama Pakaian Baju Adat Tradisional Jawa Provinsi Jawa Tengah 
Keunikan Nama Pakaian Baju Adat Tradisional Madura Provinsi Jawa Timur
Keunikan Nama Pakaian Baju Adat Tradisional Ambon Maluku Provinsi Maluku
Keunikan Nama Pakaian Baju Adat Tradisional Provinsi Kalimantan Barat
Keunikan Nama Pakaian Baju Adat Tradisional Palembang Provinsi Sumatera Selatan
Keunikan Nama Pakaian Adat Tradisional suku sasak, bima, sumawa Provinsi Nusa Tenggara Barat 
Keunikan Nama Pakaian Baju Adat Tradisional Bengkulu Provinsi Bengkulu
Keunikan Nama Pakaian Baju Adat Tradisional Jambi Provinsi Jambi
Keunikan Nama Pakaian Baju Tradisional Adat Suku Mandar Sulawesi Barat